Have an account?

Minggu, 12 Februari 2012

Pemuda (Harus) Peduli Kedaulatan Pangan

JAKARTA. Dalam peringatan Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2011 lalu, Serikat Petani Indonesia (SPI) bekerjasama dengan Koalisi Anti Utang (KAU) dan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Indonesia menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang salah satunya mengajak pemuda-pemudi Indonesia untuk (lebih) peduli terhadap pangan dan mendukung terciptanya kedaulatan pangan di Indonesia.

Syahroni, Ketua Departemen Pendidikan, Kesenian, Pemuda dan Budaya SPI mengungkapkan bahwa pemuda sebagai generasi penerus sangatlah diharapkan peranannya untuk ikut membangun kedaulatan pangan di Indonesia.

“Bagi pemuda-pemudi tani yang berada di desa bisa dilakukan dengan terus bertani dengan menggunakan pertanian agroekologis dan berkelanjutan dan tetap bangga menjadi petani, sedangkan kaum muda di perkotaan, usaha untuk mendukung dan peduli terhadap kedaulatan pangan bisa diwujudkan dengan membeli hasil tani dari petani lokal terdekat,” ungkap Syahroni.

Bapak-Bapak VS Ibu-ibu Peduli Lingkungan

antusias kaum adam dalam mengikuti pelatihan (dok.pribadi)

“Persoalan sampah bukanlah persoalan lingkungan hidup yang berdiri sendiri, persoalan sampah yang terkait dengan bagunan ekonomi politik yang diciptakan oleh sebuah sistem yang sangat besar dan sistem tersebut memberikan pengaruh dalam melakukan rekayasa gaya hidup perkotaan yang konsumtif. Selain itu pula, saat ini sistem pengelolahan tidak bersinergi dengan aktifitas dan inisiatif lokal yang berkembang di komunitas”

Paparan tersebut disampaikan oleh Mardian, S.H, Maneger Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jakarta, pada pelatihan Aksi Konservasi air dan pengelolahan sampah di RW 08, kelurahan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.

Setelah seminggu yang lalu WALHI dan Green Student Movement (GSM) memulai pelatihan ini di Penjaringan, Jakarta Utara. Kali ini (5/2/2012) mereka kembali mengadakan pelatihan aksi konservasi air dan pengelolahan sampah di kelurahan Jatinegara Kaum. Pelatihan dihadiri tidak hanya oleh ibu-ibu tetapi juga didampingi oleh para suami (bapak-bapak). Hal ini menunjukkan antusias yang tinggi akan adanya pelatihan ini.